Mandailing Natal, sumutbrantas.id – Infrastruktur vital yang menghubungkan Kecamatan Batahan dan Natal kini hampir lumpuh total. Jembatan Langgune di Desa Kubangan Tompek, Kabupaten Mandailing Natal, dilaporkan ambruk setelah tak kuat menahan beban berat mobil Trado yang mengangkut pipa besi untuk proyek jembatan Aek Batahan, baru-baru ini.
Kronologi dan Dugaan Kelalaian
Insiden ini memicu gelombang kritik tajam dari masyarakat. Mobil Trado milik PT Bahana Krida Nusantara (BKN)—pemenang tender proyek nasional Aek Batahan yang bersumber dari APBN—diduga kuat membawa muatan melebihi kapasitas (over tonnage) saat melintasi jembatan tua tersebut. Akibatnya, konstruksi jembatan “patah pinggang” dan tidak bisa lagi dilalui kendaraan.

Seorang tokoh pemuda setempat menyayangkan lemahnya manajemen dan perencanaan dari pihak perusahaan. Menurutnya, sebagai pemegang proyek nasional, PT BKN seharusnya didukung oleh tim survei, pimpro, dan konsultan yang kompeten.
“Ini bukan perusahaan ‘odong-odong’. Mereka punya manajer dan konsultan. Mengapa mereka gagal menilai kekuatan jembatan tua yang akan dilewati logistik berat mereka? Ini murni kelalaian dalam manajemen risiko,” tegasnya kepada media.
Ekonomi Warga Lumpuh, Jarak Tempuh Bertambah
Dampak ambruknya jembatan ini langsung memukul nadi ekonomi warga, terutama para petani dan pengepul sawit. Akses menuju PMKS PT Palmaris Raya dan PT Sago Nauli terputus total.

Kini, warga terpaksa mengambil jalur alternatif memutar melalui Pulo Padang yang menambah waktu tempuh hingga 1,5 jam. Kondisi ini tidak hanya membuang waktu, tetapi juga meningkatkan biaya logistik yang harus ditanggung masyarakat kecil.
“Jika perusahaan memperbaiki jembatan ini, prosesnya pasti lama, tidak mungkin selesai dalam 14 hari. Selama itu pula masyarakat merugi. Siapa yang akan bertanggung jawab atas kerugian materiil warga?” lanjut tokoh pemuda tersebut dengan nada geram.
Kompensasi dan Transparansi Perusahaan
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Kubangan Tompek belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, pihak PT Bahana Krida Nusantara bersikap tertutup; upaya konfirmasi melalui sambungan telepon kepada Humas perusahaan tidak mendapatkan respon meskipun nada dering terdengar aktif.

Masyarakat kini mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kelayakan PT BKN dalam melanjutkan proyek Aek Batahan. Kelalaian di Jembatan Langgune dianggap sebagai sinyal buruk terhadap kualitas pengerjaan proyek ke depan. Warga berkomitmen akan mengawal ketat jalannya proyek agar kegagalan infrastruktur seperti di jalur Batahan-Sinunukan tidak terulang kembali. (MO)










