BALIGE — Sumutbrantas.id.Keindahan foto-foto fasilitas Kawasan Terpadu Lumban Pea Tambunan yang gencar diunggah oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba melalui akun media sosial resmi instansi belakangan ini ternyata bertolak belakang nyata dengan kondisi di lapangan. Promosi visual yang menampilkan area wisata nyaman dan estetik tidak sejalan dengan kondisi fisik sesungguhnya, yang justru diperlihatkan sebagai area tak terawat dan banyak fasilitasnya rusak.

Sumutbrantas .id. pada Rabu ( 29 /1/2026) melakukan kunjungan langsung ke Kawasan Terpadu Lumban Pea Tambunan, Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara, dan menemukan realitas yang mengejutkan. Beragam fasilitas yang selama ini dijanjikan dan dipromosikan mulai dari ,kios kuliner, jalur pejalan kaki hingga fasilitas penunjang lain tampak tidak terawat, banyak yang rusak, bahkan sebagian area dikuasai semak belukar dan tidak difungsikan sebagaimana mestinya.
Beberapa bagian bangunan yang dipromosikan sebagai ruang wisata juga terlihat berlumut, retak, dan kurang perawatan, sehingga tidak menarik bagi pengunjung yang datang.

Beberapa orang yang sempat berbincang dengan Sumutbrantas,id ditempat tersebut menyatakan kecewa, karena apa yang mereka lihat di media sosial jauh berbeda dengan kondisi yang mereka temui di lokasi.
Menurut informasi publik yang dihimpun, pembangunan fasilitas tersebut bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Toba Tahun Anggaran 2023, dengan total biaya pengerjaan mencapai lebih dari Rp14,7 miliar. Anggaran itu terbagi atas beberapa paket pekerjaan, seperti pembangunan Pusat Kreasi Destinasi Pariwisata dan perlengkapannya senilai lebih dari Rp5,7 miliar, pembangunan Tourist Information Center (TIC) senilai hampir Rp2,8 miliar, pembuatan jalur pejalan kaki, plaza kuliner, toilet umum, tempat parkir dan lainnya.
Namun fakta lapangan memperlihatkan bahwa sejumlah fasilitas yang telah dibangun tidak berfungsi optimal dan tampak mangkrak, memunculkan pertanyaan besar terkait pemeliharaan, pengelolaan, serta akuntabilitas penggunaan anggaran publik.
Tokoh masyarakat setempat yang tidak ingin disebutkan namanya bahkan menyatakan kecewa karena sejumlah fasilitas yang mestinya menunjang kegiatan wisata justru terabaikan dan seperti tidak pernah dirawat, sehingga sama sekali tidak mampu menarik minat wisatawan. Ini terjadi di tengah upaya promosi besar-besaran dari dinas pariwisata lewat foto-foto yang mencitrakan kawasan seolah telah siap menjadi salah satu destinasi unggulan di sekitar Danau Toba Kabupaten Toba.
Kritik juga datang dari kalangan Netizen media sosial lokal yang mendesak aparat pengawas dan penegak hukum melakukan audit serta penyelidikan terhadap proyek ini, agar tidak terjadi potensi kerugian negara dan dana yang telah digelontorkan oleh masyarakat melalui pajak dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
Hingga berita ini diturunkan, kepala dinas terkait belum memberikan klarifikasi resmi mengenai kondisi yang berbeda antara promosi media sosial dari dinas yang dipimpinnya dan kenyataan di lokasi. Respons dari instansi pun hanya sebatas jawaban singkat tanpa penjelasan substantif ketika ditanya pada ASN yang ngantor di kawasan tersebut (Pak Bram /Sondang)









