“GILA! Gol 2 Menit Injury Time Robek FC berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2:2 team PSSD FC Terpaksa harus Adu Penalti, Tuan Rumah Akhirnya Menang 5-4”

Medan,Senin,10 Agustus 2026 – sumutbrantas.id

Memperingati satu abad kelahiran sastrawan Angkatan ’45 Asrul Sani, Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (Prodi Sasindo FIB USU) menggelar diskusi buku bertajuk “Seabad Setahun Asrul Sani: Menelusuri Gagasan dan Warisan Intelektual”, Senin (10/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini merupakan kolaborasi Prodi Sasindo FIB USU, dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sumatera Utara. Diskusi diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan pemerhati sastra Indonesia.

Ketua Prodi Sastra Indonesia FIB USU, Emma Marsella, S.S., M.Si., mengatakan kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali pemikiran Asrul Sani kepada generasi muda sekaligus melihat relevansinya bagi perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia.

“Melalui diskusi buku pada hari ini, kita diajak untuk menelusuri kembali jejak pemikiran Asrul Sani, memahami konteks zamannya, serta merefleksikan bagaimana gagasan-gagasan beliau dapat terus menginspirasi generasi sastrawan dan akademisi masa kini, khususnya mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia,” ujar Emma.

Dekan FIB USU, Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang mempertemukan berbagai institusi dan perspektif keilmuan.

“Kegiatan ini menjadi ruang akademik yang penting untuk kembali membaca pemikiran dan karya Asrul Sani secara kritis. Kolaborasi antara Prodi Sastra Indonesia FIB USU, dan HISKI Sumatera Utara menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan membutuhkan sinergi lintas institusi,” ujar Pujiono.

Diskusi menghadirkan Prof. Drs. Syaifuddin, M.A., Ph.D., Dr. Heru Marwata, M.Hum., dan Bambang Riyanto, S.S., M.Si., dengan Rachmad Fadillah Maha, S.S., M.Si. sebagai moderator.

Dr. Heru Marwata menyoroti Asrul Sani sebagai sosok yang tidak hanya dikenal sebagai penyair Angkatan ’45, tetapi juga intelektual, sineas, dan manusia kebudayaan. Sementara Prof. Syaifuddin membahas realitas akulturasi etnis Melayu dan Batak dalam teks naskah serta skenario film Nagabonar.

Bambang Riyanto menekankan pentingnya membaca Asrul Sani secara kritis. Ia juga mendorong kajian lebih lanjut mengenai dialektika intelektual Asrul Sani dan Pramoedya Ananta Toer serta upaya kanonisasi karya-karya Asrul Sani.

Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4: Pendidikan Berkualitas melalui perluasan akses literasi dan pembelajaran sastra, serta SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi Prodi Sastra Indonesia FIB USU, dan HISKI Sumatera Utara. Dengan harapan generasi muda semakin mengenal, mengkaji, dan meneruskan warisan intelektual para tokoh kebudayaan Indonesia.

(Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *