Bandar Lampung, Selasa,20 Oktober 2026 – sumutbrantas.id
Pementasan Wayang Sekelik dengan lakon Abung Siwo Migo berhasil menghadirkan kekayaan sejarah, adat, dan sastra tutur Lampung dalam sebuah pertunjukan budaya yang sarat nilai tradisi. Pementasan tersebut berlangsung Selasa, 20 Oktober 2026, pukul 13.00 WIB, di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Jalan Cut Nyak Dien, berbarengan dengan pentas budaya yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Lampung.
Wayang Sekelik dibawakan oleh dalang Supriyanto, S.Sn., M.M., bergelar adat Pangeran Natawijaya, dari Sanggar Seni Budaya Nusantara Widya Sasmita, Lampung Tengah. Pertunjukan ini merupakan kreasi dan adaptasi dari budaya wayang kulit yang telah berkembang, dengan mengangkat kisah serta nilai-nilai adat Lampung sebagai bagian utama dalam alur pementasannya.
Lakon Abung Siwo Migo mengisahkan perjalanan sejarah dan konflik dalam lingkungan keratuan. Dikisahkan Ratu di Puncak terbunuh oleh Raja Selawok, yang kemudian memicu anak-anaknya, Nuban, Nunyai, Unyi, dan Subing, untuk menuntut balas.
Cerita tersebut disampaikan menggunakan tata bahasa Lampung dialek Abung, dengan panduan panggeh dan ringget yang mengangkat riwayat adat serta budaya Lampung. Panggéh dan ringget dalam pertunjukan ini dipandu oleh Tauhid Qurniawan, bergelar adat Tuanku Batang Hari, asal Bandar Surabaya, Lampung Tengah, yang dikenal sebagai penggiat adat budaya Lampung, khususnya adat Abung Siwo Mego.
Menjaga Bahasa dan Sastra Tutur Lampung
Di tengah tantangan pelestarian adat dan budaya Lampung, terutama bahasa, sastra, sejarah, serta cerita rakyat, kelompok budayawan Widya Sasmita terus bergerak dan berkiprah melalui berbagai kreasi dan adaptasi budaya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga warisan leluhur di tengah derasnya perkembangan budaya modern dan semakin luasnya pengaruh budaya dari luar daerah. Melalui pementasan Wayang Sekelik, sejarah dan cerita rakyat Lampung tidak hanya disampaikan sebagai kisah masa lalu, tetapi juga dihadirkan dalam bentuk pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat lintas generasi.
Dengan berbekal riset sejarah serta panduan panggeh dan ringget tua yang menjadi tuntunan dalam kreasi budaya, pementasan Abung Siwo Migo berhasil menyajikan kisah perjalanan keturunan penguasa Keratuan di Puncak.
Tata bahasa Lampung Abung yang dipadukan dengan alunan talo lunik dan talo balak khas Lampung menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun suasana pertunjukan. Perpaduan unsur bahasa, sastra tutur, dan musik tradisional tersebut membuat kisah klasik yang dibawakan terasa hidup dan memiliki karakter budaya yang kuat.
Suasana pementasan semakin semarak dengan kehadiran tokoh penghibur Rajo Gambung dan Balak Gegi yang membuat alur cerita lebih mengalir serta menghibur. Sementara itu, iringan gitar tunggal yang dimainkan Yusuf Cak Culai, bergelar adat Rajo Budaya, menghadirkan nada-nada melodi khas Lampung yang memperkuat suasana pertunjukan.
Membawa Penonton Menelusuri Jejak Masa Lalu
Meski masih terdapat sejumlah kekurangan pada tata lampu yang mengalami kebocoran cahaya serta sistem suara yang belum sepenuhnya halus, pementasan Wayang Sekelik tetap mampu membawa penonton mengikuti alur kisah para tokoh hingga akhir cerita.
Pertunjukan tersebut seolah menjadi mesin waktu yang mengajak penonton kembali menelusuri kehidupan masyarakat Lampung pada masa lalu. Wayang bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga media penyampaian cerita, nilai adat, informasi, dan komunikasi yang dahulu dapat digunakan para penyimbang serta suttan kepada masyarakatnya.
Pementasan Wayang Sekelik lakon Abung Siwo Migo menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada upaya menjaga bentuk tradisi yang telah ada. Kreasi dan adaptasi yang berpijak pada riset sejarah serta tuntunan adat juga dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi masa kini.
Melalui pertunjukan ini, Sanggar Seni Budaya Nusantara Widya Sasmita menunjukkan bahwa bahasa, sastra tutur, dan sejarah Lampung memiliki ruang untuk terus berkembang, tanpa kehilangan akar adat dan identitas budayanya







