Ambisi Energi Trump di Venezuela Terganjal Skeptisime Raksasa Migas: “Tidak Layak Investasi”

banner 468x100

WASHINGTON D.C. – Pasca-operasi militer penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu, Presiden AS Donald Trump bergerak cepat dengan ambisi melakukan “restorasi” industri migas di Venezuela. Dalam pertemuan di Gedung Putih, Jumat (9/1), Trump mendesak perusahaan minyak kakap untuk menyuntikkan modal sedikitnya 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1,68 kuadriliun).

Namun, alih-alih sambutan hangat, raksasa energi dunia justru memberikan respons dingin dan peringatan keras mengenai risiko stabilitas di negara Amerika Selatan tersebut.

Janji Energi Murah vs Trauma Penyitaan Aset

Trump menegaskan bahwa keterlibatan industri AS di Venezuela akan menjadi kunci untuk menekan harga energi bagi warga Amerika. Ia menjanjikan sistem baru di mana perusahaan akan berhubungan langsung dengan pemerintah AS, bukan lagi dengan otoritas lokal Venezuela.

“Kalian berurusan langsung dengan kami. Kami tidak ingin kalian berurusan dengan Venezuela sama sekali,” tegas Trump di depan para eksekutif migas.

Meski demikian, trauma masa lalu menjadi penghambat utama. CEO ExxonMobil, Darren Woods, secara terang-terangan menyebut Venezuela saat ini “tidak layak untuk investasi” (uninvestable).

“Aset kami telah disita dua kali di sana. Untuk masuk ketiga kalinya, dibutuhkan perubahan yang jauh lebih signifikan dari kondisi saat ini,” ujar Woods, menekankan perlunya kepastian hukum dan keamanan fisik yang absolut.

Kontrol Ketat Gedung Putih dan Sanksi Selektif

Gedung Putih saat ini tengah menyusun skema untuk mencabut sanksi secara selektif guna memulihkan ekspor minyak. Pemerintah AS juga berkoordinasi dengan otoritas transisi di bawah Wakil Presiden Delcy Rodríguez, namun dengan kontrol yang sangat ketat.

Sebagai bentuk tekanan, pekan ini AS telah menyita sejumlah kapal tanker pengangkut minyak mentah yang terkena sanksi. Hasil penjualannya akan dialokasikan ke rekening yang dikendalikan penuh oleh Washington, sebuah langkah yang disebut para analis sebagai cara AS mempertahankan pengaruh politiknya.

Mimpi 100 Miliar Dollar vs Realitas Lapangan

Meski Trump mematok angka 100 miliar dollar AS, para pakar dan data industri menunjukkan kesenjangan yang lebar:

  1. Kebutuhan Riil: Data Rystad Energy memperkirakan hanya dibutuhkan 8–9 miliar dollar AS per tahun untuk melipatgandakan produksi pada 2040. Angka 100 miliar dianggap terlalu ambisius untuk situasi saat ini.
  2. Skala Investasi: Perusahaan kecil mungkin tertarik masuk dengan investasi di kisaran 50 juta dollar AS, namun raksasa seperti Exxon dan Shell menuntut jaminan fiskal yang kompetitif sebelum menggelontorkan miliaran dollar.
  3. Kondisi Produksi: Saat ini Venezuela hanya memproduksi 1 juta barel per hari—kurang dari 1% pasokan global—akibat salah kelola selama puluhan tahun.

Prospek Masa Depan

Meski mayoritas bersikap hati-hati, beberapa perusahaan seperti Chevron (satu-satunya raksasa AS yang masih bertahan di sana) dan Repsol asal Spanyol melihat adanya peluang untuk meningkatkan produksi secara bertahap jika kondisi tepat.

Namun, Kepala Ekonom Rystad, Claudio Galimberti, memperingatkan warga Amerika untuk tidak berharap harga BBM akan turun dalam waktu dekat. Selama stabilitas politik di Venezuela masih menjadi tanda tanya besar, komitmen finansial skala raksasa yang diharapkan Trump kemungkinan besar hanya akan tetap berada di atas kertas.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *